Senin, 16 Juli 2007

Bermain Baja via Patung Kontemporer

Bermain Baja via Patung Kontemporer


Pematung Redy mencipta simbol lewat sosok-sosok manusia dan bentuk abstraktif. Seni patung kontemporer yang menyajikan materi unik, yakni baja tahan karat (stainless stell).

Pematung dan perupa berusia masih muda, untuk ukuran pematung tentunya (31h), kembali muncul dengan pameran solonya bertema Interaction, di Edwin Gallery Juni lalu. Ia menambah lagi jumlah pematung yang selama ini lekat dengan material baja di Indonesia yang masih sangat langka.

Kenapa demikian? Seni patung kita, memang lama “tertidur” dengan materi logam seperti perunggu dengan sistem cor. Atau, bahan lain, yang lebih lunak seperti kayu, dan yang lebih gampang dan banyak dikerjakan dalam pembuatan pesanan patung-patung hiasan interior adalah bahan dari serat resin. Yang karena karakternya sangat adaptif. Sebagai contoh, ia bisa terlihat seperti, kayu, plastik, kaca bahkan nampak berwujud batu pualam.

Tapi, sesuatu yang bagi seniman lain mungkin sulit, dan mencari mudahnya saja, bagi Redy menjadi semacam tantangan. Bahan dari baja sudah semestinya “ditaklukkan”. Sifat keras materinya memang memerlukan “perlakuan” peralatan khusus. Selain memerlukan skill istimewa yang tidak sesederhana yang diterapkan ke bahan yang lain.

Latar belakang studinya di Institut Saint Joseph Brussels, jurusan otomotif di Belgia, banyak berurusan dengan mesin-mesin mobil dan menghadirkan obyek-obyek, yang menurut Redy memiliki bentuk-bentuk baja yang “plastis”, sangat membantunya. Dari sanalah Redy mengalami titik picu keberanian dengan kemampuan yang didapatnya dalam membentuk obyek baja yang artistikal. Meski, Redy sadar kendati berbeda fungsi membuat desain dan konstruksi mesin mobil dengan berkreasi membentuk hanya obyek seni semata.

Setelah balik ke Indonesia, apa yang dibawanya dari Belgia banyak memberikan sentuhan-sentuhan tekhnis lumayan banyak dalam membuat patungnya.


Abstraksi Simbol Manusia

Patung kontemporer, yang dikalangan penikmat seni rupa sering dianggap sebagai sebuah bentuk patung terkini, memang merayakan jenis karya-karya baru dan unik dalam patung. Tidak terikat kepada pakem-pakem lama. Dalam hal ini, juga materi yang dipilih senimannya.



Kembali kepada karya Redy Rahadian, ia memang mengkombinasikan pemakaian las tingkat tinggi (tig welding) dipergunakan untuk membangun karoseri (otomotif) dan pembuatan pesawat terbang (aeroplane), dan sistem elektroda tertutup yang sederhana dan biasa ditemukan ditanah air (stick welding).

Kalau kita amati, patung figur-figur miliknya atau sosok seperti manusia dari lembaran baja sepertinya terkesan biasa saja. Sebagian karya lainnya memang cenderung kearah abstrakisme. Nah, disanalah justru kita bisa melihat bahwa kesempurnaan Redy ada pada karya abstraknya. Lihat pada karya Next Generation (100x30x135) dari bahan baja, ia sangat cakap sekali bagaimana angan kita diajak menjumpai visual baja bundar yang di di”sobek” dengan las serta membersitkan simpul ditengah yang bolong bagai impresi generasi yang lebih muda sedang tumbuh dan mendesak untuk mengambil peran. Tepat ditengah ia memberi ruang bagi tunas-tunas muda untuk mengikat simpulnya, meluas dan merayap, menyebar akar-akarnya kelak dikemudian hari.

Karya abstrak lainnya, Secret (30x29x34) yang menampilkan lagi-lagi sebuah idionm simpul atau ikatan. Sebuah lempengan baja dibentuk semacam selubung yang dibentuk vertikal, kemudian atasnya di “pelintir” runcing yang akhirnya mampu untuk di talikan menjadi satu simpul. Karya ini, menyiratkan sebuah “rahasia” yang dipendam dan hanya dibebaskan untuk ditafsir hanya pada bagian bawah selubungnya. Terobek-robek oleh las dan menampakkan rongga-rongga rahasianya kepada semua orang. Seakan Redy berujar “ Bagian atas, tetap diam dan tersimpul rapat entah sampai kapan…”.

Kecakapan Redy membangun atmosfir yang memberi begitu banyak tafsir dengan karya abstraknya tidak sekuat ketika ketika menemuinya dalam patung-patung figuratif atau sosok-sosok manusianya. Tubuh-tubuh baja menampakkan diri dimana-mana. Berkali-kali mereka mewujud dalam “kekerdilan”, sosok-sosok yang digambarkan dalam figur menyerupai manusia. Berkepala, kaki serta memiliki tangan. Yang satu, biasanya dominan dan masif, dan lainnya lebih mungil ukurannya dan cenderung “liliput” dibandingkan skalanya dengan lainnya.

Atau patung monolitik yang menggambarkan manusia utuh, namun badannya “tersobek” menggambarkan keperihan. Tekhnik las yang dipergunakan Redy, memang menciptakan drama, dengan kemampuannya “ menusuk-nusuk” patung hingga seolah-olah manusia-manusia yang bertubuh sedang mengerang kesakitan dan tak utuh.

Patung-patung figuratif manusia yang lainnya kadang dipasangkan dengan bentuk-bentuk geometrik, semacam kubus segi empat atau bentuk segitiga yang “dipermainkan” oleh manusia-manusia “liliput”. Didakinya, kemudian dipuncaknya diambil pucuk runcingnya, diambil dan dipermainkan dari puncaknya. Yang lainnya berdua, mereka memotong segitiga itu dengan gergaji dalam karya courage (50x55x120) sedangkan yang lainnya betrtemu dengan sosok-sosok raksasa dan tangan kiri dan kanannya saling terikat sosok “liliput” dalam Unbalance (103x30x105).

Tafsir yang paling sederhana, Redy hendak mengungkapkan bagaimana manusia selalu dalam keadaan tak terbatas dalam keterbatasan dalam “kekerdilannya”. Dengan eksplorasi tekhnik yang bagus, ia begitu pandai mempermainkan baja yang keras, menjadi seakan tak berbobot dengan meliukkannya, membolongi dan mencipta bangunan-bangunan segitiga. Seperti, yang disebut diatas, ketidak sempurnaan Redy, khususnya karya figur-figurnya hanya terlihat pada bagaimana sosok manusianya mengalami titik lemah pada struktur anatominya. Seperti yang kita tahu, bahwa karya seni yang baik juga karena timbul kepekaan dalam memahami bentuk sebuah obyek. Pada banyak karya sosok manusia Redy, ia kehilangan kekuatan untuk menampilkan struktur “tulang” yang ada pada manusia dan keluwesan penampakan “daging” pada beberapa isyarat posisi tubuh dan gerak manusia yang lazim.


Seperti dalam contoh karya Terbagi Dua, sangat jelas terpapar bahwa “raksasa” yang ditarik dua orang “kerdil” sangat menafikan elemen anatomis pada tubuh patung. Redy, secara ekspresif hanya menampilkan lutut yang ditekuk, pundak yang lebar, pantat dan kaki serta tangan - kaki yang memanjang sekedarnya. Bukankah bagaimanapun kita akan terbantu menikmati dan berapresiasi ketika struktur tulang dalam patungnya bisa lebih sempurna dan “digarap”? Bagaimanapun, dimasa depan Redy masih mungkin memperbaruinya, yang jelas ia telah berani tampil berbeda dalam dunia materi baja yang masih langka. Dan, tentunya kekuatan eksplorasi tekhnis mengelasnya sudah semestinya mendapat acungan jempol.




Bambang asrini widjanarko

SPLASH

Oleh: Bambang Asrini Widjanarko

SPLASH
Pameran Solo
Irawan Karseno
Cassis Resto, Juli 2007


Irawan Karseno, Pelukis dan Perupa (bekerja juga di wilayah selain membuat karya lukisan, yakni: desain interior) kelahiran Surabaya, mempresentasikan lukisan-lukisannya di Cassis Resto sepanjang bulan Juli 2007. Makna kata Splash, jika dikelompokkan dalam kata keterangan berbahasa Inggeris -- dalam pengertian bukan kata benda -- jika diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia memiliki arti memercikkan atau mencipratkan sesuatu. Sesuatu yang bersifat zat cair.

Pada pameran solo, dengan tajuk Splash ini, konsep tema secara “mendadak” dan tak terduga muncul selagi pembicaraan hangat ketika rencana pameran ini dirancang. Tema lahir begitu saja, disepakati bersama dengan beberapa teman dan Irawan Karseno sendiri. Sangat menggelitik, dan menawarkan sebuah pemikiran anyar. Kata keterangan memercikkan sesuatu dari zat bermateri cair akan mendekatkan kita terhadap beberapa hal.

Yang pertama, seperti yang kita tahu dalam pendekatan kajian seni rupa, terutama jika kita meninjaunya pada aspek formalisme, yakni tinjauan secara pikturial dalam karya lukisan. Kita menemui format lukisan yang bertumpu pada bertemunya berbagai komposisi warna, garis dan bidang-bidang yang “dipercikkan menjadi satu” dengan metoda tertentu. Kenapa “dipercikkan”? Karena, cara melukis Irawan memang secara harafiah sejalan dengan kata tersebut. Yakni, menumpahkan cat, memercikkan atau mencipratkan, kemudian pada saatnya melaburkan warna-warna yang diinginkan ke permukaan kanvas.

Dalam metode lain, ia juga menggaris, menoreh bahkan menempelkan sesuatu di kanvas-kanvasnya. Irawan tak ambil peduli, bahwa “cipratan” nya bisa saja membentuk sesuatu atau mengasosiasikan pada sesuatu. Yang jelas, kadang dia sangat piawai membingkai harmoni dengan padanan cat dan garis yang ditoreh dari charcoal. Maka, yang kita dapatkan adalah kesan tenang dan nyaman, apalagi ketika ia mem-blocking dengan warna penuh pada bidang-bidang tertentu di kanvasnya.

Lain waktu, yang sering terjadi, kita terkena “shocking” dengan cara dia mengambil begitu saja gambar-gambar dari majalah, klise film atau sobekan “uang dewa”, kemudian dengan tekhnik kolase ditempelkan mengimbuhi warna-warna kontras yang saling menegang dan berlawanan sebagai latar belakang, semuanya tumpah dikanvas. Sebuah hasil “cipratan” pada akhirnya membentuk sebuah karya lukisan.




Yang kedua, Irawan yang lulus dari Institut Tekhnologi Bandung, Fakultas Seni Rupa dan Desain secara personal tumbuh dan besar di kota besar. Yakni, Surabaya, Bandung, Malang, sampai Jakarta, bahkan dalam kehidupannya sempat “mampir” ke Amerika. Tahun 2004 lalu, beberapa bulan ia memang melawat ke Amerika, sebagai seniman yang di undang oleh lembaga nirlaba bidang seni rupa di Vermont, USA.

Seniman yang tumbuh dan berkembang di kota besar (sebut: Metropolitan) seperti Jakarta memang memiliki beberapa ciri dan karakter yang khas. Mereka lebih spontan dan berterus terang. Ruang dan waktu berbeda dengan pengalaman seniman-seniman di kota besar yang berukuran lebih kecil (sebut saja: Jogja atau Bandung), yang cenderung lebih tenang dan tak “beriak”. Kota Jakarta bagi Irawan, adalah separuh hidupnya dan sebuah medan kosmos yang memberi kekayaan pada jiwa dan rasa estetiknya. Kota Metropolitan, sering tidak bisa menawar lagi dan tanpa kompromi mengharuskan para penghuninya untuk cepat sekali bertindak dan merespon setiap gejala. Bahkan, kalau bisa tetap waspada, bahkan 24 jam.

Inilah yang terus merongrong, mendesak dan menuntut seniman di kota Jakarta berpikir dan bertindak lebih progressif. Yang terjadi, Irawan tak mengalami apa yang seniman era dahulu sering menyebutnya sebagai ruang dan waktu kontemplasi atau perenungan yang berkepanjangan. Irawan percaya, ruang dan waktu baginya bergulir juga dengan “sepercik” akselarasi yang sekilas (at a glance) dengan bertindak secara langsung dan cepat! Tanpa harus bermenung dan terpekur berlama-lama.

Jadi, tema splash, adalah perwujudan dari jiwa-personalnya yang spontan dan bebas. Ia, bisa saja membangun konsep-konsep yang secara ideologis berat dan memukau sebagai perencanaan awal dalam berkarya. Tapi, ditinggalkannya segera. Ia hanya seniman yang menuruti naluriahnya untuk berbuat, merespons cat dan seluruh peralatan untuk melukisnya dengan tetap dalam kondisi sadar dan terjaga. Mengontrol semuanya “saling berdialog” di permukaan kanvas secara otomatis. Kemudian, terjadilah lukisan-lukisan tersebut. Dalam kajian seni rupa, kosmologi kejiwaannya sebagai seniman terkait dengan lukisan di kanvas. Mereka mengalami interaksi subyek-obyek yang intim.


Yang ketiga, dengan pendekatan semiosis kita bisa melihat ada beberapa tanda, dan ini disadari oleh Irawan, berbagai simbol dan lambang yang saling menerangkan dan diterangkan yang akhirnya menjadi judul lukisan atau secara mandiri tak berhubungan satu dengan yang lainnya. Tanda yang mandiri dan terpisah. Sangat menarik, karena ia kadang menjumput tanda-tanda yang berasosiasi dengan sex, musik, makna histeria, binatang, “ikon dewa” dalam upacara sembahyang orang Tiong-Hwa, gambar-gambar lain yang terbuat dari charcoal dengan metoda drawing atau figur-figur yang menyerupai wajah orang dan digambar secara naif. Atau, citra-citra tentang dunia yang absurd dan chaotic dengan tulisan yang terkesan romantik: What all we need is love.

Yang mungkin bisa ditafsirkan, secara mandiri, karena Irawan kadang tak bisa menjelaskan secara detail proses semiosis, yakni hubungan dan keterpisahan tanda yang saling mungkin sangat arbiter (sewenang-wenang) dalam lukisannya. Karena berkelindannya penanda dan petanda dalam teks tanda. Ini juga bisa menjelaskan, bagaimana sistem reproduksi tanda di kota besar yang sangat tidak bergantung pada realitas konsep gagasan aslinya. Secara sederhana, bagaimana pengertian tentang kata: Cinta, apakah bisa dipastikan secara benar dan memiliki makna statis di kota besar? Irawan meresponnya dengan kata-kata yang mungkin sering muncul di media-media. Atau, ungkapan hatinya tentang cinta yang bisa saja dipahami telah teredusir atau menjadi bias di Jakarta.

Baiklah, sebagai sebuah contoh lagi, jika kita berbicara tentang Seks, maka tanda dan informasi apa yang kemudian muncul di Internet, TV, Video DVD atau Papan Reklame sangat membingungkan! Bisa kita sebut berkesan sensual, tabu, erotik, vulgar, romantik, porno atau malahan spiritual atau bahkan ada yang melihatnya sebagai permainan simbol alat-alat kelamin orang dewasa? Satu dan lainnya saling tidak memberi informasi atau mewakili konsep tentang realitas yang disepakati pada satu konvensi tunggal. Dunia yang diciptakan tanda tersebut adalah realitas lain, realitas yang semu. Menurut Jean Baudrilliard, kita tercebur ke sebuah zaman dan era dunia realitas maya atau virtual reality.

Kata Splash, dalam pameran ini mungkin yang paling tepat! Kenapa? Karena, hampir setiap hari, kita, sebagai penghuni kota besar alias masyarakat urban “terciprat” ribuan atau bahkan jutaan citra dan informasi yang terdiri dari ikon, simbol dan lambang yang sepenuhnya mungkin didekonstruksi tanpa henti secara sengaja oleh produsennya.

Sebuah karya seni, memang memungkinkan kita jauh menempuh atau melanglang buana kedalam kemungkinan-kemungkinan tak terbatas atas paras estetika yang ingin dipilih. Kita bisa menjumputnya dalam akar estetika yang mendorong kita memasuki dalam ruang spiritualitas atau muara kemanusiaan dalam diri. Atau, ia tak memberikan apa-apa sebagai sebuah seni yang dianggap “adiluhung” pada era dahulu. Tetapi, yang diproduksi oleh makna banalitas yang estetik sekarang ini. Makna yang kita terima setiap hari karena proses industri-konsumsi yang masal semata.

Justru, semua itulah yang menjadi akar estetika dari karya seni Irawan. Dengan lukisan-lukisannya, menyodorkan kepada kita sebuah pernyataan: Mari kita rayakan saja hidup yang pendek ini dengan kenyataan yang hanya “sekilas” atau instan, karena kita sebenarnya hanya “terciprat” saja dari ribuan informasi yang banal!




Bambang Asrini Widjanarko

MEMBANGUN ULANG INFRA STRUKTUR SENI RUPA KITA

Oleh: Bambang Asrini Widjanarko



Infrastruktur Seni Rupa adalah sebuah gambaran ruang-integral dengan lingkup elemen seperti ke-ilmuan dan pendidikan (akademi seni rupa), produsen kritik seni secara teks (kritik seni rupa), manajemen seni dengan ide-ide kreatif yang baru (manajemen seni), kebijakan publik dari pemerintah (undang-undang dan peraturan pemerintah) maupun keragaman fasilitas pendukung fisik dan non fisik (museum dan galeri swasta atau milik pemerintah, balai lelang serta festival seni/ art bienalle ), sumber daya manusia (seniman, kurator, kritikus, manager seni). Selain keberadaan apresian seni (kolektor dan publik luas) sebagai elemen suprastruktur. Semua elemen tersebutlah pada akhirnya yang menyokong daya hidup, gejala progresifitas dan identitas seni rupa kita.

Dalam realitas dunia kekinian, kita telah “suka ataupun tidak” menerima terjadinya pemahaman baru tentang pentingnya membangun ulang Infrastruktur Seni Rupa. Membangun ulang dalam pengertian hakikinya, adalah: sebuah upaya menjawab tantangan yang dihadapi sebagai konsekuensi pesatnya perkembangan proses komodifikasi (seni rupa sebagai sebuah produk komoditas) karena keniscayaan dunia industri global (terutama seni rupa kontemporer). Selain, kesadaran-kesadaran bersama bahwa berubahnya bentuk estetika, ekspresi seni maupun cara seni rupa dipresentasikan dan diapresiasi oleh publiknya.

Yang terpenting, adalah merespons berubahnya keberadaan ruang-ruang kultural dan sosiologis, serta penemuan tekhnologi terkini -- di kota besar/Metropolitan -- yang tumbuh dan berkembang sangat cepat yang menuntut kita semuanya, sebagai bagian dari infra struktur seni Rupa untuk berbenah pula, mengikuti perubahan zaman.

Dari sana yang bisa dijabarkan adalah sebagai berikut:

Proses Pengayaan Ilmu Pengetahuan Seni Rupa

Timbulnya kesadaran baru, bagaimana Ilmu Pengetahuan Seni Rupa yang telah membuka dirinya sendiri dengan mengadopsi berbagai disiplin ilmu yang sebelumnya, bahkan jarang dijadikan lahan kajian seni rupa. Salah satunya yakni: kajian/ studi atas budaya (cultures studies), salah satu yang menjadi pusat perhatiannya adalah bagaimana seni rupa ditinjau dari ekspresi maupun bentuknya yang lahir karena pengaruh budaya sub kultur atau seni pop terbaru.

Medium atau alat penyampai bahasa visual dalam seni rupa jarang diteliti penggunaanya di akademi seni rupa dengan tekhnologi paling mutakhir. Terutama, perlengkapan materialnya dan tersedianya metoda piranti lunak atau soft ware yang sering dipakai dalam seni rupa kontemporer.

Memberikan materi pendidikan yang agak berbeda, sebagai sebuah sebuah alternatif dan rangsangan, dengan orientasi penggalian nilai-nilai lama dan tradisi asli sebagai pijakan untuk tantangan presentasi bentuk-bentuk seni rupa baru (kontemporer) yang lebih mengedepankan estetika yang bercorak “mozaik”, sebuah percampuran antara yang modern dan tradisi.

d. Memberi ruang lebih luas terhadap mahasiswa untuk berinteraksi
diluar kampus terutama apresiasi dan kegiatan yang bersifat eksibisi,
seminar dan eksperimentasi di studio-studio seniman senior dengan arah pembentukan karakter terhadap karya. Selain juga, dicobanya berbagai bentuk pengajaran secara lintas disipliner antara ilmu desain komunikasi visual (produk industri terapan) dan multi media, serta seni murni.


Memperbarui Produsen seni secara teks - Kritik seni rupa

Mediasi Kritik Seni yang bisa didefinisikan sebagai sebuah reportase eksibisi seni, review, tulisan tafsir sampai analisa mendalam tentang karya seni seperti di jurnal seni, bulletin khusus, telah bergeser kecenderungannya dengan munculnya kritik seni dengan karakter tulisan di surat kabar dan majalah yang lebih popular dan ringan.


Adanya kesadaran baru, karya-karya seni rupa sangat dekat dengan proses
terjadinya konsumsi citra-citra yang dekat dengan wilayah urban dan kota
besar/metropolitan. Maka, munculah gejala untuk membuat tulisan-tulisan
kritik yang berdekatan dengan seni sebagai sebuah proses reproduksi
produk komoditas keseharian alias gaya hidup.


Belum adanya sebuah penulisan kritik yang komplit dan integral (dalam bentuk buku) dalam artian mewakili identitas seni rupa Indonesia. Yang ditulis secara lengkap dalam pembabakan sejarah dan penelitian-penelitian yang bersumber dari khasanah lokal, yakni nilai-nilai yang bersumber dari kekayaan tradisi dan ditulis para sarjana seni rupa Indonesia. Yang ada selalu rujukan terhadap tulisan-tulisan peneliti asing, semisal: Helena Spanjard atau Claire Holt, Astri Wright serta Jan Coeteu.


Munculnya peran milis-milis kelompok alternative (millis - groups) dan komunitas seni yang sering disebarkan secara teks/ tertulis di internet atau majalah/ bulletin internal. E-Mail – news letter, yang akan menginisiasi lebih lanjut bentuk-bentuk karya kritik yang sangat beragam dan mungkin malah lebih spesifik. Tergantung dari intensitas dan pretensi dan ideologi seni dari kelompok yang menuliskan kritik-kritik dan tulisan serta kolom-kolom “budaya” yang tersebar dimana-mana. Ini juga membentuk wilayah apresiasi baru yang lebih luas cakupan apresiannya. Fenomena blog-blog yang free yang di tulis secara serius ataupun main-main telah merubah paras kritik menjadi kian dekat dan “mudah’ dipahami oleh bahkan masyarakat awam. Tulisan kritik, pada akhirnya tak lagi di “dominasi” oleh terbitnya buku jurnal seni dan budaya yang distribusinya sangat sedikit dan terkesan ekslusif sebagai “menara gading”.




Manajemen Seni dengan ide-ide kreatif yang baru

Ada kesadaran baru untuk lebih memperkaya manajemen seni dengan mengadopsi tata cara dalam strategi pencitraan yang meliputi:

1. Product knowledge, yakni basis nilai estetik dan bentuk karya seni yang lebih difokuskan kepada karakter yang lebih plural dan tidak stero type
2. Mencoba membuat mapping terhadap audience atau apresian seninya


Melihat seniman sebagai seorang professional yang memiliki kualifikasi
dengan manajemen modern yang diterapkan dengan memakai analisa
Strenght, Weakness, Opportunity dan Threat yang sangat ketat.

Membangun Net-working yang lebih luas dan berhubungan dengan berbagai lembaga baik nir-laba maupun komersial dan institusi pemerintahan. (Ford Foundation, ADB, Rij Academy, Vermont University atau HIVOs serta Dewan Kesenian Jakarta) atau Galeri-galeri komersial yang memiliki jaringan kerja dan aktifitas ke seantero dunia.

Merpertimbangkan kemasan yang lebih “familiar” dalam seni pertunjukan dan eksibisi-eksibisi seni rupa

a. Penggunaan tekhnologi internet, penciptaan situs-situs yang independent untuk penyebaran informasi tentang eksibisi
b. Pembuatan sebuah eksibisi yang disesuaikan dengan tema sentral pertunjukan seni dan pembabakan eksibisi dengan strategi pra-event, d-day dan pasca-event dengan program acara yang menarik dan mengundang pembicara atau kurator tertentu bahkan public figure.
c. Menciptakan sebuah collector gathering dan artist talk dalam merangkul sebanyak mungkin para kolektor seni, apresian dan pecinta seni.


Peninjauan kembali kebijakan publik dari pemerintah (Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah)

Keberpihakan Pemerintah dalam membuat per undang-undangan yang berpihak kepada kesenian yang berbasis ekonomi-kreatif. Sebagai salah satu yang dilakukan dalam politik kebudayaan yang dijalankan pemerintahan di banyak Negara di dunia. Menciptakan museum-museum baru, memberi bea siswa kepada kurator dan kritikus yang berprestasi atau mengirim para seniman dalam pertukaran residensi seniman di banyak Negara dengan pola G to G.

Menciptakan fasilitas dan akses politik dengan membuat peraturan bebas pajak untuk karya seni, memberi kemudahan setiap pembangunan gedung-gedung dan fasilitas publik dengan mengutamakan adanya ruang-ruang yang ditetapkan sebagai ruang untuk apresiasi seni dalam kebijakan Tata-Kota (Master-Plan). Misal, setiap pembangunan sebuah Mall, harus wajib ada art gallery yang dibangun sebuah saja didalamnya, sebagai kompensasi.

Perombakan kurikulum dalam sistem pengajaran sejak dini disekolah-sekolah dasar dengan menetapkan adanya pelajaran kesenian dan ketrampilan seni yang lebih banyak daripada pelajaran-pelajaran yang berbasis ekonomi atau pelajaran yang bersifat eksakta. Memberi kewajiban untuk para guru, sejak awal anak didiknya mengenal dunia kesenian dengan mengajak ke museum dan galeri seni

Pemerintah mendukung seluruh aktifitas seni dengan menyiapkan infra struktur tersendiri dan seperangkat peraturan seperti : perlindungan Karya Intelektual dan hak Cipta Seni, ancaman kejahatan plagiasi/ pemalsuan di kesenian. Mempercayakan pengelolaan manajemen seni pada lembaga pemerintahan seni di bidang wisata dan produk-produk berbasis seni dan budaya pada para professional. Kemudian juga memberi kemudahan pihak swasta untuk membangun kegiatan kesenian secara fisik-materiil, seperti pembangunan galeri-galeri swasta.

e. Membuat kampanye secara nasional dengan penciptaan eksibisi dan
kegiatan seni yang berbasis kepada kesadaran produk-produk budaya dan
seni lewat media masa. Dalam UU penyiaran ditetapkan harus adanya
program-program industri hiburan - Pop dan edukasi dalam seni dan
budaya yang wajib dilakukan oleh para produsen film lokal, organizer
dan penggiat kesenian lokal di televisi, radio dan berbagai media cetak
nasional.



Membangun ulang keragaman fasilitas pendukung fisik dan festival seni (museum, galeri swasta, balai lelang dan milik pemerintah, serta ruang publik lain )

Ada sebuah kecenderungan, terutama galeri-galeri swasta papan atas, balai lelang dan kurator yang dianggap mainstream, untuk membuat arah seni rupa dengan karakter tertentu untuk dijadikan plat form khusus sebagai
selera tunggal dan bersama, yang patut dikonsumsi secara wacana dan
diserap dipasar. Hal inilah, perlu adanya kesadaran baru bahwa karya seni
rupa secara riil, seni rupa Indonesia dibentuk oleh banyak elemen
tak hanya Galeri dan segelintir kurator. Maka, sudah selayaknuya,
dibutuhkan berbagai ragam galeri atau pluralitas karya yang bisa ter-
akses para apresian dan industri seni rupa dalam berbagai jenis yang ada.

Lembaga-lembaga pemerintah, dalam hal ini Museum dan Galeri Nasional, sudah semestinya lebih selektif mencipta keberimbangan identitas karya yang dianggap merepresentasikan seni rupa Indonesia yang plural dan berkualitas. Dengan menciptakan acuan dan standardisasi serta seleksi kuratorial yang lebih ketat. Dengan membuat program-program dan kegiatan seni yang lebih dianggap “berwibawa”. Demikian juga, peran Akademi Seni Rupa untuk mempersentasikan dan membuat kegiatan festival dan Pesta Seni (Art Expo/ Fair) untuk mencipta kesimbangan serapan oleh pasar seni rupa dan publik umum baik wacana dan komersial.

c. Lebih banyak tumbuh dan dirangsangnya keberadaan komunitas seni,
studio seniman, komunitas ekslusif maupun tidak dalam berbagi asosiasi
profesi terkait, dan institusi seni nir-laba yang didanai oleh NGO asing
atau lokal untuk menciptakan juga kesimbangan proses pencitraan seni rupa Indonesia yang lebih plural dan berkualitas yang mampu bersaing bahkan di jaringan seni internasional.

d. Secara fisik, fasilitas dan ruang publik yang lebih familiar seperti Hotel,
Café, Restaurant bahkan Mall adalah sebuah ruang yang lebih egaliter
untuk presentasi karya yang lebih beragam, dengan sasaran edukasi terhadap
para apresian pemula seni rupa. Ini, juga sejalan dengan kecenderungan
mereka yang mengapresisi seni rupa sebagai bagian dari gaya hidup dan
kebutuhan pembangunan citra diri sebagi manusia modern yang mengenal
seni secara akrab.

e. Memperbanyak jumlah Bienalle Event atau Kompetisi Seni rupa yang akan
memicu pertumbuhan dan infra struktur seni rupa di Indonesia. Karena,
bagaimanapun program-program acara, baik yang besar maupun kecil telah
menciptakan keberagaman seluruh elemen dalam infra struktur seni rupa
Indonesia. Selain juga, sebagai ukuran sejauh mana, perkembangan seni
rupa mencapai titik-titik perkembangannya. Sebuah evaluasi yang
berkelanjutan setiap tahun dan sangat edukatif untuk memunculkan bakat-
bakat baru perupa muda. Tentunya dengan tema dan standar kuratorial dan
kemasan program acara yang harus menarik, terseleksi dan ketat.



Membangun ulang Sumber Daya Manusia di bidang Seni Rupa (Kurator, Kritikus, Sejarawan Seni, Perupa)


a. Kurator, tumbuhnya kesadaran baru adanya profesi kurator di Indonesia,
yang berbeda dengan definisi kurator museum di masa silam. Disebabkan
oleh berkembangnya kesadaran baru bahwa seni rupa sangat dekat dengan
dunia industri dan strategi pencitraan tertentu, selain semakin kayanya paras estetika yang tak hanya berlandaskan pada kemampuan mengidentifikasi gejala seni rupa secara umum, namun mengklarifikasi munculnya keistimewaan individu perupa yang berbeda dengan gejala yang nampak sebagai hanya sebuah trend. Kurator lebih dekat dengan kemampuan manajerial (managerial skill) yang berhubungan tak hanya dengan perupa, tetapi media masa, konsep pe- wacanaan dan tematik sebuah eksibisi dan aktifitas seni (pembacaan karya), namun memahami pula karakteristik apresian/pecinta seni serta publik luas.

Dibutuhkan kurator yang memahami selain bentuk dan ekspresi karya perupa tetapi juga tuntutan untuk mampu secara fasih menggunakan manajemen modern dan mengeksekusinya di lapangan.

b. Kritikus, yang pada dasarnya adalah seorang pengamat dan peneliti perkembangan sebuah karya, perupa atau melihat gejala dalam dinamika seni rupa telah bergeser semakin banyak tuntutan yang harus diketahui tak hanya dalam menganalisa dan mengevaluasi dalam lingkup seni dan konsep-konsep estetik. Kritikus sekarang telah dituntut untuk memberi pengayaan baru dalam wawasan yang lebih luas dalam pisau analitisnya dalam sebuah aktifitas/ kegiatan seni yang sekaligus mendalam dengan berbagai disiplin ilmu tentang sejarah seni, antropolosi budaya, sosiologi, filsafat bahkan pengamatan terhadap munculnya kajian dan studi budaya yang memfokuskan perhatian pada seni pop dan seni sebagai bagian dari gaya hidup (kajian sub kultur).

c. Sejarawan Seni, dimasa lalu pokok perhatian ilmiahnya sering dikaitkan pada gejala seni rupa sebagai sebuah kaitan dengan konstruksi ke-sejarahan sosial/ politik dan budaya dan perkembangan seni yang dianggap mewakili garis linearitas dalam pembabakan tradisi/etnik dan seni rupa modern serta kontemporer. Seperti sering dikatakan kritikus Sanento Yuliman, yang menyebutkan para sarjana seni adalah sebuah agen yang mengidentifikasi seni rupa modern (seni yang Tunggal yang diserap dari kebudayaan barat) dengan memilahkan, sangat ekstrem dengan kesadaran pertumbuhan sejarah keberadaan seni aplikatif dan craft (terapan atau kerajinan sebagi seni ke Dua) yang asli local (dalam bukunya Dua Seni Rupa). Pendekatan seni rupa kontemporer lebih menjelaskan bagaimana sebuah karya bisa “dilepaskan” dari konteks kesejarahan atau semakin terikat dengannya? Dengan melepas sejarah yang melingkupinya dan elemen apa sekarang yang membentuknya adalah sebuah kajian dan ruang penelitian bagi sejarawan seni dan tuntutan yang harus dikerjakannya sekarang ini sebagi ilmuwan seni.

d. Perupa, dalam banyak hal telah dituntut untuk berubah dalam deskripsi kerjanya dahulu, yakni: hanya berkerja untuk memproduksi karya seni saja. Sekarang ini, dengan bantuan tekhnologi dan perkembangan manajemen seni dan informasi yang unlimited di dunia seni rupa yang telah melintasi batas-batas yang dikatakan sebagai era virtual-realty memudahkan seniman merangkap dirinya sebagi art dealer atau manajer seni sekaligus dengan membuat perencanaan, pengorganisasian dan eksekusi sebuah eksibisi. Pertama, seniman sekarang lebih bisa mengakses apa saja bahasa estetik, bentuk, ekspresi dan medium yang sangat kaya dan beragam via internet dan ini mmempengaruhi karakter karya yang tak lagi statis ataupun streo type seperti masa lampau. Selain itu, lebih banyak yang secara sadar timbulnya kesadaran yang lebih baik untuk menciptakan sebuah citra dan kesan yang lebih professional dengan menunjuk manager seni atau curator independent untuk menciptakan akses-akses karya seninya ke apresiannya dimana saja, bahkan walau tanpa secara fisik ada galerinya. Ruang maya dan situs internet, bisa menjadi alternatif.


Membangun ulang sebuah Infra Struktur Seni Rupa, sejatinya bukanlah sebuah cita-cita utopia semata. Sebab, disana lebih banyak ukuran-ukuran yang secara rasional mampu dan bisa dirubah sebenarnya. Dan, semua ini adalah tergantung kepada seluruh elemen yang membentuknya menjadi satu kesatuan integral yang ideal dan sehat untuk bangkit dan membangun bersama. Sebuah komitmen dan kerja keras bersama untuk berbenah. Bukankah, seribu langkah bisa didahului dengan langkah yang sederhana, sebuah langkah kecil: beritikad baik untuk berubah!



Juli 2007 – Buncit
Makalah ini, dipresentasikan dalam sebuah acara diskusi seni rupa dalam pameran Sudden Death di Universitas Negeri Jakarta, tanggal 19 Juli 2007