Senin, 16 Juli 2007

SPLASH

Oleh: Bambang Asrini Widjanarko

SPLASH
Pameran Solo
Irawan Karseno
Cassis Resto, Juli 2007


Irawan Karseno, Pelukis dan Perupa (bekerja juga di wilayah selain membuat karya lukisan, yakni: desain interior) kelahiran Surabaya, mempresentasikan lukisan-lukisannya di Cassis Resto sepanjang bulan Juli 2007. Makna kata Splash, jika dikelompokkan dalam kata keterangan berbahasa Inggeris -- dalam pengertian bukan kata benda -- jika diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia memiliki arti memercikkan atau mencipratkan sesuatu. Sesuatu yang bersifat zat cair.

Pada pameran solo, dengan tajuk Splash ini, konsep tema secara “mendadak” dan tak terduga muncul selagi pembicaraan hangat ketika rencana pameran ini dirancang. Tema lahir begitu saja, disepakati bersama dengan beberapa teman dan Irawan Karseno sendiri. Sangat menggelitik, dan menawarkan sebuah pemikiran anyar. Kata keterangan memercikkan sesuatu dari zat bermateri cair akan mendekatkan kita terhadap beberapa hal.

Yang pertama, seperti yang kita tahu dalam pendekatan kajian seni rupa, terutama jika kita meninjaunya pada aspek formalisme, yakni tinjauan secara pikturial dalam karya lukisan. Kita menemui format lukisan yang bertumpu pada bertemunya berbagai komposisi warna, garis dan bidang-bidang yang “dipercikkan menjadi satu” dengan metoda tertentu. Kenapa “dipercikkan”? Karena, cara melukis Irawan memang secara harafiah sejalan dengan kata tersebut. Yakni, menumpahkan cat, memercikkan atau mencipratkan, kemudian pada saatnya melaburkan warna-warna yang diinginkan ke permukaan kanvas.

Dalam metode lain, ia juga menggaris, menoreh bahkan menempelkan sesuatu di kanvas-kanvasnya. Irawan tak ambil peduli, bahwa “cipratan” nya bisa saja membentuk sesuatu atau mengasosiasikan pada sesuatu. Yang jelas, kadang dia sangat piawai membingkai harmoni dengan padanan cat dan garis yang ditoreh dari charcoal. Maka, yang kita dapatkan adalah kesan tenang dan nyaman, apalagi ketika ia mem-blocking dengan warna penuh pada bidang-bidang tertentu di kanvasnya.

Lain waktu, yang sering terjadi, kita terkena “shocking” dengan cara dia mengambil begitu saja gambar-gambar dari majalah, klise film atau sobekan “uang dewa”, kemudian dengan tekhnik kolase ditempelkan mengimbuhi warna-warna kontras yang saling menegang dan berlawanan sebagai latar belakang, semuanya tumpah dikanvas. Sebuah hasil “cipratan” pada akhirnya membentuk sebuah karya lukisan.




Yang kedua, Irawan yang lulus dari Institut Tekhnologi Bandung, Fakultas Seni Rupa dan Desain secara personal tumbuh dan besar di kota besar. Yakni, Surabaya, Bandung, Malang, sampai Jakarta, bahkan dalam kehidupannya sempat “mampir” ke Amerika. Tahun 2004 lalu, beberapa bulan ia memang melawat ke Amerika, sebagai seniman yang di undang oleh lembaga nirlaba bidang seni rupa di Vermont, USA.

Seniman yang tumbuh dan berkembang di kota besar (sebut: Metropolitan) seperti Jakarta memang memiliki beberapa ciri dan karakter yang khas. Mereka lebih spontan dan berterus terang. Ruang dan waktu berbeda dengan pengalaman seniman-seniman di kota besar yang berukuran lebih kecil (sebut saja: Jogja atau Bandung), yang cenderung lebih tenang dan tak “beriak”. Kota Jakarta bagi Irawan, adalah separuh hidupnya dan sebuah medan kosmos yang memberi kekayaan pada jiwa dan rasa estetiknya. Kota Metropolitan, sering tidak bisa menawar lagi dan tanpa kompromi mengharuskan para penghuninya untuk cepat sekali bertindak dan merespon setiap gejala. Bahkan, kalau bisa tetap waspada, bahkan 24 jam.

Inilah yang terus merongrong, mendesak dan menuntut seniman di kota Jakarta berpikir dan bertindak lebih progressif. Yang terjadi, Irawan tak mengalami apa yang seniman era dahulu sering menyebutnya sebagai ruang dan waktu kontemplasi atau perenungan yang berkepanjangan. Irawan percaya, ruang dan waktu baginya bergulir juga dengan “sepercik” akselarasi yang sekilas (at a glance) dengan bertindak secara langsung dan cepat! Tanpa harus bermenung dan terpekur berlama-lama.

Jadi, tema splash, adalah perwujudan dari jiwa-personalnya yang spontan dan bebas. Ia, bisa saja membangun konsep-konsep yang secara ideologis berat dan memukau sebagai perencanaan awal dalam berkarya. Tapi, ditinggalkannya segera. Ia hanya seniman yang menuruti naluriahnya untuk berbuat, merespons cat dan seluruh peralatan untuk melukisnya dengan tetap dalam kondisi sadar dan terjaga. Mengontrol semuanya “saling berdialog” di permukaan kanvas secara otomatis. Kemudian, terjadilah lukisan-lukisan tersebut. Dalam kajian seni rupa, kosmologi kejiwaannya sebagai seniman terkait dengan lukisan di kanvas. Mereka mengalami interaksi subyek-obyek yang intim.


Yang ketiga, dengan pendekatan semiosis kita bisa melihat ada beberapa tanda, dan ini disadari oleh Irawan, berbagai simbol dan lambang yang saling menerangkan dan diterangkan yang akhirnya menjadi judul lukisan atau secara mandiri tak berhubungan satu dengan yang lainnya. Tanda yang mandiri dan terpisah. Sangat menarik, karena ia kadang menjumput tanda-tanda yang berasosiasi dengan sex, musik, makna histeria, binatang, “ikon dewa” dalam upacara sembahyang orang Tiong-Hwa, gambar-gambar lain yang terbuat dari charcoal dengan metoda drawing atau figur-figur yang menyerupai wajah orang dan digambar secara naif. Atau, citra-citra tentang dunia yang absurd dan chaotic dengan tulisan yang terkesan romantik: What all we need is love.

Yang mungkin bisa ditafsirkan, secara mandiri, karena Irawan kadang tak bisa menjelaskan secara detail proses semiosis, yakni hubungan dan keterpisahan tanda yang saling mungkin sangat arbiter (sewenang-wenang) dalam lukisannya. Karena berkelindannya penanda dan petanda dalam teks tanda. Ini juga bisa menjelaskan, bagaimana sistem reproduksi tanda di kota besar yang sangat tidak bergantung pada realitas konsep gagasan aslinya. Secara sederhana, bagaimana pengertian tentang kata: Cinta, apakah bisa dipastikan secara benar dan memiliki makna statis di kota besar? Irawan meresponnya dengan kata-kata yang mungkin sering muncul di media-media. Atau, ungkapan hatinya tentang cinta yang bisa saja dipahami telah teredusir atau menjadi bias di Jakarta.

Baiklah, sebagai sebuah contoh lagi, jika kita berbicara tentang Seks, maka tanda dan informasi apa yang kemudian muncul di Internet, TV, Video DVD atau Papan Reklame sangat membingungkan! Bisa kita sebut berkesan sensual, tabu, erotik, vulgar, romantik, porno atau malahan spiritual atau bahkan ada yang melihatnya sebagai permainan simbol alat-alat kelamin orang dewasa? Satu dan lainnya saling tidak memberi informasi atau mewakili konsep tentang realitas yang disepakati pada satu konvensi tunggal. Dunia yang diciptakan tanda tersebut adalah realitas lain, realitas yang semu. Menurut Jean Baudrilliard, kita tercebur ke sebuah zaman dan era dunia realitas maya atau virtual reality.

Kata Splash, dalam pameran ini mungkin yang paling tepat! Kenapa? Karena, hampir setiap hari, kita, sebagai penghuni kota besar alias masyarakat urban “terciprat” ribuan atau bahkan jutaan citra dan informasi yang terdiri dari ikon, simbol dan lambang yang sepenuhnya mungkin didekonstruksi tanpa henti secara sengaja oleh produsennya.

Sebuah karya seni, memang memungkinkan kita jauh menempuh atau melanglang buana kedalam kemungkinan-kemungkinan tak terbatas atas paras estetika yang ingin dipilih. Kita bisa menjumputnya dalam akar estetika yang mendorong kita memasuki dalam ruang spiritualitas atau muara kemanusiaan dalam diri. Atau, ia tak memberikan apa-apa sebagai sebuah seni yang dianggap “adiluhung” pada era dahulu. Tetapi, yang diproduksi oleh makna banalitas yang estetik sekarang ini. Makna yang kita terima setiap hari karena proses industri-konsumsi yang masal semata.

Justru, semua itulah yang menjadi akar estetika dari karya seni Irawan. Dengan lukisan-lukisannya, menyodorkan kepada kita sebuah pernyataan: Mari kita rayakan saja hidup yang pendek ini dengan kenyataan yang hanya “sekilas” atau instan, karena kita sebenarnya hanya “terciprat” saja dari ribuan informasi yang banal!




Bambang Asrini Widjanarko

Tidak ada komentar: