Senin, 16 Juli 2007

Bermain Baja via Patung Kontemporer

Bermain Baja via Patung Kontemporer


Pematung Redy mencipta simbol lewat sosok-sosok manusia dan bentuk abstraktif. Seni patung kontemporer yang menyajikan materi unik, yakni baja tahan karat (stainless stell).

Pematung dan perupa berusia masih muda, untuk ukuran pematung tentunya (31h), kembali muncul dengan pameran solonya bertema Interaction, di Edwin Gallery Juni lalu. Ia menambah lagi jumlah pematung yang selama ini lekat dengan material baja di Indonesia yang masih sangat langka.

Kenapa demikian? Seni patung kita, memang lama “tertidur” dengan materi logam seperti perunggu dengan sistem cor. Atau, bahan lain, yang lebih lunak seperti kayu, dan yang lebih gampang dan banyak dikerjakan dalam pembuatan pesanan patung-patung hiasan interior adalah bahan dari serat resin. Yang karena karakternya sangat adaptif. Sebagai contoh, ia bisa terlihat seperti, kayu, plastik, kaca bahkan nampak berwujud batu pualam.

Tapi, sesuatu yang bagi seniman lain mungkin sulit, dan mencari mudahnya saja, bagi Redy menjadi semacam tantangan. Bahan dari baja sudah semestinya “ditaklukkan”. Sifat keras materinya memang memerlukan “perlakuan” peralatan khusus. Selain memerlukan skill istimewa yang tidak sesederhana yang diterapkan ke bahan yang lain.

Latar belakang studinya di Institut Saint Joseph Brussels, jurusan otomotif di Belgia, banyak berurusan dengan mesin-mesin mobil dan menghadirkan obyek-obyek, yang menurut Redy memiliki bentuk-bentuk baja yang “plastis”, sangat membantunya. Dari sanalah Redy mengalami titik picu keberanian dengan kemampuan yang didapatnya dalam membentuk obyek baja yang artistikal. Meski, Redy sadar kendati berbeda fungsi membuat desain dan konstruksi mesin mobil dengan berkreasi membentuk hanya obyek seni semata.

Setelah balik ke Indonesia, apa yang dibawanya dari Belgia banyak memberikan sentuhan-sentuhan tekhnis lumayan banyak dalam membuat patungnya.


Abstraksi Simbol Manusia

Patung kontemporer, yang dikalangan penikmat seni rupa sering dianggap sebagai sebuah bentuk patung terkini, memang merayakan jenis karya-karya baru dan unik dalam patung. Tidak terikat kepada pakem-pakem lama. Dalam hal ini, juga materi yang dipilih senimannya.



Kembali kepada karya Redy Rahadian, ia memang mengkombinasikan pemakaian las tingkat tinggi (tig welding) dipergunakan untuk membangun karoseri (otomotif) dan pembuatan pesawat terbang (aeroplane), dan sistem elektroda tertutup yang sederhana dan biasa ditemukan ditanah air (stick welding).

Kalau kita amati, patung figur-figur miliknya atau sosok seperti manusia dari lembaran baja sepertinya terkesan biasa saja. Sebagian karya lainnya memang cenderung kearah abstrakisme. Nah, disanalah justru kita bisa melihat bahwa kesempurnaan Redy ada pada karya abstraknya. Lihat pada karya Next Generation (100x30x135) dari bahan baja, ia sangat cakap sekali bagaimana angan kita diajak menjumpai visual baja bundar yang di di”sobek” dengan las serta membersitkan simpul ditengah yang bolong bagai impresi generasi yang lebih muda sedang tumbuh dan mendesak untuk mengambil peran. Tepat ditengah ia memberi ruang bagi tunas-tunas muda untuk mengikat simpulnya, meluas dan merayap, menyebar akar-akarnya kelak dikemudian hari.

Karya abstrak lainnya, Secret (30x29x34) yang menampilkan lagi-lagi sebuah idionm simpul atau ikatan. Sebuah lempengan baja dibentuk semacam selubung yang dibentuk vertikal, kemudian atasnya di “pelintir” runcing yang akhirnya mampu untuk di talikan menjadi satu simpul. Karya ini, menyiratkan sebuah “rahasia” yang dipendam dan hanya dibebaskan untuk ditafsir hanya pada bagian bawah selubungnya. Terobek-robek oleh las dan menampakkan rongga-rongga rahasianya kepada semua orang. Seakan Redy berujar “ Bagian atas, tetap diam dan tersimpul rapat entah sampai kapan…”.

Kecakapan Redy membangun atmosfir yang memberi begitu banyak tafsir dengan karya abstraknya tidak sekuat ketika ketika menemuinya dalam patung-patung figuratif atau sosok-sosok manusianya. Tubuh-tubuh baja menampakkan diri dimana-mana. Berkali-kali mereka mewujud dalam “kekerdilan”, sosok-sosok yang digambarkan dalam figur menyerupai manusia. Berkepala, kaki serta memiliki tangan. Yang satu, biasanya dominan dan masif, dan lainnya lebih mungil ukurannya dan cenderung “liliput” dibandingkan skalanya dengan lainnya.

Atau patung monolitik yang menggambarkan manusia utuh, namun badannya “tersobek” menggambarkan keperihan. Tekhnik las yang dipergunakan Redy, memang menciptakan drama, dengan kemampuannya “ menusuk-nusuk” patung hingga seolah-olah manusia-manusia yang bertubuh sedang mengerang kesakitan dan tak utuh.

Patung-patung figuratif manusia yang lainnya kadang dipasangkan dengan bentuk-bentuk geometrik, semacam kubus segi empat atau bentuk segitiga yang “dipermainkan” oleh manusia-manusia “liliput”. Didakinya, kemudian dipuncaknya diambil pucuk runcingnya, diambil dan dipermainkan dari puncaknya. Yang lainnya berdua, mereka memotong segitiga itu dengan gergaji dalam karya courage (50x55x120) sedangkan yang lainnya betrtemu dengan sosok-sosok raksasa dan tangan kiri dan kanannya saling terikat sosok “liliput” dalam Unbalance (103x30x105).

Tafsir yang paling sederhana, Redy hendak mengungkapkan bagaimana manusia selalu dalam keadaan tak terbatas dalam keterbatasan dalam “kekerdilannya”. Dengan eksplorasi tekhnik yang bagus, ia begitu pandai mempermainkan baja yang keras, menjadi seakan tak berbobot dengan meliukkannya, membolongi dan mencipta bangunan-bangunan segitiga. Seperti, yang disebut diatas, ketidak sempurnaan Redy, khususnya karya figur-figurnya hanya terlihat pada bagaimana sosok manusianya mengalami titik lemah pada struktur anatominya. Seperti yang kita tahu, bahwa karya seni yang baik juga karena timbul kepekaan dalam memahami bentuk sebuah obyek. Pada banyak karya sosok manusia Redy, ia kehilangan kekuatan untuk menampilkan struktur “tulang” yang ada pada manusia dan keluwesan penampakan “daging” pada beberapa isyarat posisi tubuh dan gerak manusia yang lazim.


Seperti dalam contoh karya Terbagi Dua, sangat jelas terpapar bahwa “raksasa” yang ditarik dua orang “kerdil” sangat menafikan elemen anatomis pada tubuh patung. Redy, secara ekspresif hanya menampilkan lutut yang ditekuk, pundak yang lebar, pantat dan kaki serta tangan - kaki yang memanjang sekedarnya. Bukankah bagaimanapun kita akan terbantu menikmati dan berapresiasi ketika struktur tulang dalam patungnya bisa lebih sempurna dan “digarap”? Bagaimanapun, dimasa depan Redy masih mungkin memperbaruinya, yang jelas ia telah berani tampil berbeda dalam dunia materi baja yang masih langka. Dan, tentunya kekuatan eksplorasi tekhnis mengelasnya sudah semestinya mendapat acungan jempol.




Bambang asrini widjanarko

Tidak ada komentar: